Monday, April 20, 2026

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 3

 

CINCINSLOT   -  Hari berikutnya—

aku kembali datang.

Seperti janji yang aku buat sendiri.

Seperti seseorang yang masih percaya… bahwa sesuatu yang hilang bisa kembali.

Bangku itu masih sama.

Senja juga masih sama.

Namun aku—

tidak lagi sama.

Aku duduk.

Menatap jalan itu lagi.

Menunggu.

Meski aku tahu—

kemungkinan kamu datang hari ini… semakin kecil.

“Aku tetap di sini…”

Bisikku pelan.

Seolah kamu bisa mendengar.

Waktu berjalan.

Senja turun.

Dan seperti kemarin—

kamu tidak datang.

Namun kali ini—

aku tidak hanya menunggu.

Aku mengingat.

Tentang cara kamu tertawa.

Tentang cara kamu menatap langit.

Tentang cara kamu bilang—

“Aku mungkin tidak bisa sering ke sini lagi.”

Aku menggenggam tanganku.

“Kenapa kamu tidak bilang lebih jelas…?”

Suaraku hampir pecah.

Tiba-tiba—

angin berhembus lebih kencang.

Membawa sesuatu.

Sebuah kertas kecil.

Terbang… dan jatuh tepat di dekat kakiku.

Aku menatapnya.

Ragu.

Namun perlahan—

aku mengambilnya.

Kertas itu sedikit kusut.

Seolah sudah lama dibawa.

Seolah sudah lama… menunggu untuk ditemukan.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Dan di sana—

aku melihat tulisanmu.

“Untuk kamu yang selalu menunggu di senja…”

Nafasku tertahan.

Mataku mulai kabur.

Namun aku tetap membaca.

“Maaf… aku tidak datang hari ini.”
“Dan mungkin… aku tidak akan datang untuk beberapa waktu.”

Jantungku terasa berhenti.

“Aku tidak pergi karena aku ingin.”
“Aku pergi karena aku harus.”

Tanganku semakin gemetar.

“Ada hal dalam hidupku yang tidak bisa aku jelaskan sekarang.”
“Hal yang… bisa menyakitimu kalau kamu tahu.”

Air mataku jatuh.

Namun aku tidak berhenti membaca.

“Aku takut… kalau aku tetap di sana, aku akan semakin dekat denganmu.”
“Dan aku tidak ingin kamu terluka karena aku.”

Sunyi.

Namun kata-kata itu… terasa sangat keras.

“Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu…”

Aku menahan napas.

“Aku tidak pernah menganggap pertemuan kita sebagai kebetulan.”
“Dan setiap senja bersamamu… adalah hal paling indah yang pernah aku miliki.”

Air mataku jatuh lebih deras.

“Kalau suatu hari… aku bisa kembali—”
“aku harap… kamu masih di sana.”

Tanganku berhenti.

Namun ada satu kalimat lagi.

“Dan kalau kamu sudah tidak menunggu…”
“aku tidak akan menyalahkanmu.”

Sunyi.

Aku menutup surat itu perlahan.

Menarik napas dalam.

Namun rasanya… tidak cukup.

“Bodoh…”

Aku tertawa kecil.

Namun penuh air mata.

“Kenapa kamu memutuskan semuanya sendiri…?”

Aku menatap langit.

Senja hampir hilang.

Seperti hari-hari sebelumnya.

Namun kali ini—

aku tidak merasa kosong.

Aku merasa…

ditinggalkan.

Aku menggenggam surat itu erat.

Sangat erat.

Seolah takut kehilangan satu-satunya hal yang tersisa darimu.

“Kalau kamu bisa menulis ini…”

Aku berdiri.

Mataku penuh tekad.

“…berarti kamu masih ada di dunia yang sama denganku.”

Angin berhembus pelan.

Seolah menjawab.

Aku tersenyum.

Namun kali ini—

bukan senyum yang lemah.

“Aku tidak akan hanya menunggu.”

Aku menatap jalan itu.

“Aku akan menemukanmu.”

Senja benar-benar tenggelam.

Namun untuk pertama kalinya—

aku tidak hanya menunggu cahaya.

Aku mulai mencarinya.

Jejak yang Tertinggal

CINCINSLOT   -  Sejak hari itu—

aku tidak lagi datang hanya untuk menunggu.

Aku datang…

untuk mencari.

Surat itu selalu aku bawa.

Terlipat rapi.

Namun semakin sering kubaca—

semakin terasa berat.

Seolah setiap kata di dalamnya… menyimpan sesuatu yang belum selesai.

“Aku tidak akan datang untuk beberapa waktu…”

Aku mengulang kalimat itu dalam hati.

“Beberapa waktu… itu berapa lama?”

Hari itu, aku berdiri lebih lama dari biasanya.

Tidak hanya di bangku.

Namun di sekitar taman.

Melihat.

Mengamati.

Mencari sesuatu… yang mungkin pernah kamu tinggalkan.

Dan untuk pertama kalinya—

aku menyadari sesuatu.

Di bawah bangku itu—

ada ukiran kecil.

Hampir tidak terlihat.

Aku berjongkok.

Mendekat.

Jari-jariku menyentuhnya perlahan.

Sebuah inisial.

Dua huruf.

Yang tidak asing.

Aku terdiam.

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Ini…?”

Aku menyentuhnya lagi.

Memastikan.

Itu namamu.

Dan—

namaku.

Aku menutup mata sejenak.

Menahan sesuatu yang hampir pecah.

“Kamu… benar-benar pernah di sini…”

Namun di samping ukiran itu—

ada sesuatu lagi.

Lebih kecil.

Lebih samar.

Sebuah simbol.

Seperti tanda arah.

Seperti… petunjuk.

Aku mengernyit.

“Apa ini…?”

Aku berdiri.

Menatap sekeliling.

Dan untuk pertama kalinya—

aku tidak melihat taman ini sebagai tempat biasa.

Aku melihatnya sebagai…

jejakmu.

Langkahku perlahan bergerak.

Mengikuti arah simbol itu.

Keluar dari taman.

Menuju jalan kecil di sampingnya.

Jalan yang sebelumnya…

tidak pernah aku perhatikan.

Angin berhembus.

Lebih dingin.

Lebih sunyi.

Namun aku tidak berhenti.

Langkah demi langkah—

aku terus berjalan.

Hingga akhirnya—

aku sampai di sebuah tempat.

Perpustakaan tua.

Bangunannya sepi.

Terlihat jarang dikunjungi.

Namun pintunya… terbuka.

Aku berdiri di depan.

Ragu.

Namun juga yakin.

“Ini… tempatmu?”

Aku masuk.

Perlahan.

Di dalam—

sunyi.

Hanya suara langkahku.

Dan aroma buku lama.

Aku berjalan di antara rak-rak.

Melihat satu per satu.

Namun tidak tahu apa yang harus dicari.

Hingga—

aku melihat sesuatu.

Di salah satu meja—

ada buku yang terbuka.

Seolah baru saja ditinggalkan.

Aku mendekat.

Perlahan.

Dan di halaman itu—

ada tulisan tangan.

Tulisanmu.

Tanganku gemetar saat menyentuhnya.

“Kalau kamu menemukan ini…”

Nafasku tertahan.

“…berarti kamu benar-benar mencariku.”

Aku menutup mata.

Air mataku jatuh.

Namun kali ini—

bukan karena kehilangan.

Melainkan karena—

aku semakin dekat.

Aku membuka halaman berikutnya.

Dengan hati yang berdebar.

“Aku tidak tahu sampai sejauh mana kamu akan datang…”
“Tapi kalau kamu sudah di sini…”

Tanganku semakin erat memegang buku itu.

“…jangan berhenti.”

Sunyi.

Namun kata-kata itu…

terasa seperti kamu berbicara langsung padaku.

Aku mengangkat kepala.

Menatap ke dalam perpustakaan itu.

Lebih dalam.

Lebih jauh.

Dan aku tahu—

ini baru awal.

Aku menggenggam buku itu.

Menarik napas dalam.

“Baik…”

Suaraku pelan.

Namun penuh tekad.

“Aku tidak akan berhenti.”

Di sudut ruangan—

tanpa aku sadari—

sebuah bayangan bergerak.

Mengamati.

Diam.

Dan untuk pertama kalinya—

pencarianku…

tidak hanya tentang menemukanmu.

Namun juga tentang—

menghadapi sesuatu yang belum aku pahami.







**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terperc aya  SERVER THAILAND

No comments:

Post a Comment

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 6

  Di Antara Cahaya dan Kegelapan CINCINSLOT    -    Pelukanku masih erat. Namun tubuhmu— semakin bergetar. “Lepaskan aku…” Suaramu berat. Bu...