CINCINSLOT - Perpustakaan itu… terlalu sunyi.
Bukan sekadar sepi.
Namun seperti menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang tidak ingin ditemukan.
Aku masih berdiri di depan buku itu.
Tulisanmu masih terbuka.
Masih hangat… seolah baru saja ditulis.
Padahal—
aku tidak tahu sudah berapa lama kamu meninggalkannya.
“Aku tidak akan berhenti…”
Aku mengulang kata-katamu pelan.
Namun kali ini—
aku tidak sendirian.
“Aku harap kamu benar-benar tidak berhenti.”
Sebuah suara.
Dari belakang.
Tubuhku langsung menegang.
Aku menoleh cepat.
Di sana—
seseorang berdiri.
Seorang pria.
Usianya tidak terlalu tua.
Namun matanya… terasa dalam.
Seolah melihat lebih banyak dari yang seharusnya.
“Kamu siapa…?”
Suaraku pelan.
Namun waspada.
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya berjalan perlahan mendekat.
Langkahnya tenang.
Seolah tempat itu… memang miliknya.
“Kamu menemukan buku itu,” katanya akhirnya.
Matanya tertuju pada buku di tanganku.
Aku menggenggamnya lebih erat.
“Iya… ini milik seseorang.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Sunyi.
Namun ada sesuatu dalam suaranya yang membuatku tidak nyaman.
“Kamu kenal dia…?”
Aku bertanya.
Langsung.
Tanpa ragu.
Ia berhenti.
Menatapku.
Lama.
“Lebih dari yang kamu tahu.”
Jawaban itu—
tidak menenangkan.
Justru membuatku semakin gelisah.
“Di mana dia?” tanyaku cepat.
“Dia baik-baik saja?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya melihatku.
Seolah… menilai sesuatu.
“Kamu mencarinya sejauh ini…”
Ia melirik surat di tanganku.
“…karena kamu peduli?”
Aku menatapnya tajam.
“Bukan karena peduli.”
Aku menarik napas.
“…karena aku tidak bisa berhenti.”
Ia tersenyum.
Namun kali ini—
lebih jelas.
“Jawaban yang menarik.”
Aku melangkah mendekat.
“Kalau kamu tahu sesuatu… tolong katakan.”
Sunyi.
Hanya suara detak jantungku.
Akhirnya—
ia berbicara.
“Dia tidak menghilang tanpa alasan.”
Aku menahan napas.
“Apa maksudmu…?”
Pria itu menoleh ke arah jendela.
Cahaya senja mulai masuk.
Menyinari ruangan itu dengan warna yang sama seperti tempat pertama kali kami bertemu.
“Dia menjauh… karena dia tahu sesuatu akan terjadi.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Apa…?”
Pria itu menatapku lagi.
Kali ini—
lebih serius.
“Dan kalau kamu terus mencarinya…”
Ia berhenti sejenak.
“…kamu akan ikut terlibat.”
Sunyi.
Aku menggenggam tanganku.
“Terlibat dalam apa?”
Ia tidak menjawab langsung.
Hanya berjalan ke arah rak buku.
Mengambil satu buku tua.
Lalu memberikannya padaku.
“Sebelum kamu melangkah lebih jauh…”
Ia menatapku dalam-dalam.
“…pastikan kamu siap kehilangan sesuatu.”
Aku terdiam.
“Kenapa semua orang selalu bicara tentang kehilangan…?”
Suaraku pelan.
Namun penuh emosi.
Ia tersenyum tipis.
“Karena tidak semua pencarian… berakhir dengan kebahagiaan.”
Sunyi.
Aku melihat buku di tanganku.
Lalu kembali menatapnya.
“Kalau aku berhenti sekarang…”
Aku menarik napas.
“…apa aku akan baik-baik saja?”
Ia mengangguk pelan.
“Ya.”
Aku tersenyum kecil.
Namun pahit.
“Kalau begitu… aku tidak mau baik-baik saja.”
Ia terdiam.
Dan untuk pertama kalinya—
ia terlihat… terkejut.
Aku menggenggam buku itu erat.
Mataku penuh tekad.
“Aku sudah sejauh ini.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak akan mundur.”
Sunyi.
Namun kali ini—
bukan sunyi yang menakutkan.
Melainkan…
awal dari sesuatu yang lebih besar.
Pria itu akhirnya tersenyum.
Lebih dalam.
“Kalau begitu…”
Ia melangkah mundur.
“Selamat datang… di bagian cerita yang sebenarnya.”
Lampu perpustakaan berkedip.
Angin tiba-tiba masuk dari jendela.
Halaman buku di tanganku terbuka sendiri.
Dan di sana—
ada sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Sebuah peta.
Dengan satu tanda.
Dan tanda itu…
mengarah ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan.
Tempat yang Tidak Pernah Kamu Ceritakan
CINCINSLOT - Halaman itu terbuka sendiri.
Seolah… memang ingin aku melihatnya.
Aku menatap peta di dalam buku itu.
Garis-garisnya tidak rapi.
Seperti digambar dengan terburu-buru.
Namun ada satu tanda—
lingkaran kecil.
Dengan satu titik di tengahnya.
“Apa ini…?”
Bisikku pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri di belakangku.
Diam.
Mengamati.
“Itu tempat terakhir yang dia datangi.”
Akhirnya ia bicara.
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Terakhir…?”
Ia mengangguk.
“Setelah itu… dia tidak kembali ke sini lagi.”
Tanganku menggenggam buku itu lebih erat.
“Kenapa dia ke sana…?”
Sunyi.
Pria itu menghela napas pelan.
“Karena dia tidak punya pilihan.”
Jawaban itu—
lagi-lagi tidak menjelaskan apa pun.
Aku menutup buku itu.
Menatapnya.
“Kamu tahu semuanya… tapi kamu tidak mau bilang dengan jelas.”
Ia tersenyum tipis.
“Bukan tidak mau.”
Ia melangkah mendekat.
“Dia yang tidak ingin kamu tahu terlalu cepat.”
Aku terdiam.
“Kenapa…?”
Suaraku melemah.
Ia menatapku dalam-dalam.
“Karena kalau kamu tahu semuanya sekarang…”
Ia berhenti sejenak.
“…kamu mungkin tidak akan datang.”
Sunyi.
Kata-kata itu… menghantam lebih dalam dari yang aku kira.
Aku menunduk.
Menatap peta itu lagi.
“Dia benar-benar memikirkan semuanya sendirian…”
Bisikku.
Namun kali ini—
aku tidak marah.
Aku hanya…
lebih ingin menemukannya.
“Aku akan ke tempat ini.”
Aku mengangkat buku itu.
Menatap pria itu.
Ia tidak terlihat terkejut.
Seolah sudah tahu aku akan mengatakan itu.
“Perjalanan ke sana tidak mudah.”
“Aku tidak mencari yang mudah.”
Jawabku cepat.
Ia tersenyum kecil.
“Kalau begitu… aku tidak akan menghentikanmu.”
Aku berbalik.
Melangkah keluar dari perpustakaan.
Namun sebelum aku benar-benar pergi—
aku berhenti.
“Kamu siapa sebenarnya?”
Sunyi sejenak.
“Aku?”
Ia tertawa kecil.
“Hanya seseorang… yang dulu juga pernah mencarinya.”
Aku menoleh.
Terkejut.
“Dan… kamu menemukannya?”
Ia terdiam.
Namun kali ini—
tidak tersenyum.
“Tidak.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa berat.
Aku menatapnya.
“Jadi… aku akan menemukan dia untuk kita berdua.”
Ia tidak menjawab.
Namun matanya—
seolah berharap.
Aku melangkah keluar.
Langit sudah hampir gelap.
Namun di kejauhan—
warna senja masih tersisa.
Aku melihat peta itu sekali lagi.
Mengikuti garisnya dengan jari.
Tempat itu…
tidak jauh.
Namun terasa jauh.
Sebuah bangunan tua.
Di ujung kota.
Tempat yang jarang didatangi siapa pun.
Aku berjalan.
Langkahku tidak ragu.
Angin malam mulai terasa dingin.
Namun hatiku—
tetap hangat.
Karena untuk pertama kalinya—
aku tidak hanya menunggu.
Aku mendekat.
Semakin dekat.
Hingga akhirnya—
aku berdiri di depan tempat itu.
Gerbang besi tua.
Setengah terbuka.
Berderit pelan tertiup angin.
Aku menelan ludah.
“Ini… tempatmu?”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Namun—
aku bisa merasakannya.
Sesuatu.
Yang pernah menjadi bagian darimu.
Masih ada di sini.
Aku melangkah masuk.
Perlahan.
Dan saat kakiku melewati gerbang itu—
angin berhenti.
Semua menjadi… terlalu tenang.
Seolah tempat itu…
menyadari kehadiranku.
Di kejauhan—
sebuah pintu terbuka sedikit.
Gelap di dalamnya.
Namun di lantai—
ada sesuatu.
Jejak langkah.
Masih baru.
Jantungku berdegup kencang.
“…kamu di sini.”
Aku tersenyum.
Dengan mata yang mulai basah.
Dan tanpa ragu—
aku melangkah menuju pintu itu.
Tanpa tahu—
bahwa di baliknya—
bukan hanya kamu yang menunggu.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

No comments:
Post a Comment