CINCINSLOT - Pelukanku masih erat.
Namun tubuhmu—
semakin bergetar.
“Lepaskan aku…”
Suaramu berat.
Bukan seperti kamu.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Cahaya di sekeliling kita mulai retak.
Seperti kaca yang hampir pecah.
Bayangan gelap di tubuhmu bergerak—
merambat.
Mengambil alih.
“Aku tidak bisa menahannya…”
Kamu menggenggam lenganku.
Kuat.
Terlalu kuat.
Rasa sakit menjalar.
Namun aku tidak melepaskanmu.
“Kalau kamu terus di sini…”
Napasmu tidak teratur.
“…aku akan menyakitimu.”
Aku menatap matamu.
Yang kini—
setengah terang.
Setengah gelap.
“Kalau itu yang harus aku rasakan…”
Air mataku jatuh.
“…aku tetap tidak akan pergi.”
Sunyi.
Untuk sesaat—
semuanya berhenti.
Seolah dunia…
menunggu keputusanmu.
Namun tiba-tiba—
kegelapan itu meledak.
“PERGI!!”
Gelombang energi menghantam ruangan.
Mendorong tubuhku ke belakang.
Aku terjatuh.
Napas tersengal.
“Kamu…!”
Aku mencoba bangkit.
Namun kamu—
sudah berubah.
Bayangan hitam menyelimuti tubuhmu.
Matamu…
bukan lagi milikmu sepenuhnya.
“Aku sudah bilang…”
Suaramu bergema.
Namun ada dua suara di dalamnya.
“…jangan mendekat.”
Aku berdiri.
Meski lututku gemetar.
“Kalau kamu ingin menjauh…”
Aku menatapmu.
“Lihat aku dan katakan itu lagi.”
Kamu membeku.
Tubuhmu bergetar hebat.
“Pergi…”
Kali ini lebih pelan.
Lebih… manusia.
Aku melangkah maju.
“Tidak.”
Satu langkah lagi.
Kegelapan itu bergerak liar.
Seolah marah.
“Kenapa kamu keras kepala…?”
Aku tersenyum kecil.
Di tengah tangis.
“Karena kamu yang mengajarkanku untuk tetap tinggal.”
Sunyi.
Kata-kata itu—
menembus sesuatu di dalam dirimu.
Kamu menutup mata.
Menggenggam kepalamu.
“Diam…”
Seolah kamu berbicara pada dirimu sendiri.
“Jangan dengarkan dia…”
Aku berhenti.
“Kamu… melawannya?”
Tidak ada jawaban.
Namun tubuhmu—
berjuang.
Kegelapan dan cahaya bertabrakan.
Aku melihatnya.
Dengan jelas.
Kamu tidak berubah sepenuhnya.
Kamu sedang…
berjuang.
Aku menggenggam tanganku.
“Aku di sini…”
Suaraku pelan.
“Aku tidak akan pergi.”
Kamu membuka mata.
Dan untuk sesaat—
cahaya itu kembali.
“…kenapa…”
Suaramu lemah.
“…kamu tetap memilih aku…?”
Aku tersenyum.
“Karena aku tidak mencintai versimu yang sempurna.”
Aku melangkah mendekat lagi.
“Aku mencintai kamu… yang berjuang.”
Air matamu jatuh.
Dan untuk pertama kalinya—
kegelapan itu… mundur.
Sedikit.
Namun—
tiba-tiba—
suara lain muncul.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
“Kalau begitu… aku akan menghancurkan dia.”
Aku membeku.
Kamu menegang.
“Tidak…!”
Namun sudah terlambat.
Kegelapan itu—
bukan hanya bagian dari kamu.
Ia adalah sesuatu yang hidup.
Dan sekarang—
ia menatapku.
Sebagai target.
Aku berdiri diam.
Namun tidak mundur.
“Kalau kamu ingin menghancurkan sesuatu…”
Aku menatapnya.
“…hancurkan aku.”
Kamu terkejut.
“Jangan…!”
Namun aku tetap berdiri.
“Karena selama aku di sini…”
Air mataku jatuh.
“…dia tidak akan sendirian.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
kegelapan itu…
ragu lagi.
Jika Aku Harus Hilang untukmu
CINCINSLOT - Kegelapan itu… terdiam.
Untuk sesaat.
Seolah mempertimbangkan kata-kataku.
Namun hanya sesaat.
“Pengorbanan…”
Suara itu bergema.
Dalam.
Dingin.
“…selalu menjadi awal dari kehancuran.”
Aku tidak bergerak.
Meski tubuhku gemetar.
“Kalau itu kehancuran…”
Aku menatapnya.
“…biarkan aku yang menanggungnya.”
“Diam!”
Kamu berteriak.
Tubuhmu kembali bergetar hebat.
“Jangan bicara seperti itu…!”
Aku menoleh padamu.
Air mataku jatuh.
“Aku tidak ingin kehilangan kamu…”
Suaraku pecah.
“…tapi aku juga tidak ingin melihat kamu hilang sedikit demi sedikit.”
Sunyi.
Kata-kata itu—
menyakitkan.
Untukku.
Dan untukmu.
Kamu terdiam.
Matamu kembali bergetar.
“Aku…”
Suaramu melemah.
“…aku juga tidak ingin kehilangan kamu.”
Jantungku berdegup.
Untuk pertama kalinya—
kamu mengatakannya.
Namun—
kegelapan itu tertawa.
“Kalian berdua terlalu lemah…”
Energi hitam itu membesar.
Mengelilingi tubuhmu.
Menekan.
Menguasai.
Aku melihatnya.
Dengan jelas.
Kalau ini terus berlanjut—
kamu akan hilang.
Aku menggenggam tanganku.
Kuat.
“Aku mengerti sekarang…”
Bisikku pelan.
Kamu menatapku.
“Apa…?”
Aku tersenyum.
Namun kali ini—
tenang.
“Kenapa kamu menjauh.”
Sunyi.
“Apa yang akan kamu lakukan…?”
Suaramu panik.
Aku melangkah mendekat.
Satu langkah.
Kegelapan itu bergerak.
Menghalangiku.
Namun aku tetap maju.
“Kamu bilang… kamu akan kehilangan aku…”
Aku menatapmu.
“Kalau aku tetap di sini.”
Langkahku tidak berhenti.
“Kalau begitu…”
Air mataku jatuh.
“…aku yang akan mengakhiri ini.”
Matamu melebar.
“Jangan…!”
Aku tersenyum.
Lembut.
“Untuk pertama kalinya…”
Aku mengangkat tanganku.
Menyentuh dadamu.
Tempat di mana kegelapan itu berpusat.
“…biarkan aku melindungi kamu.”
Cahaya muncul.
Dari tanganku.
Dari dalam diriku.
Hangat.
Lembut.
Namun kuat.
Kegelapan itu langsung bereaksi.
“Apa ini…?!”
Energi hitam itu bergetar.
Seolah terancam.
Aku menutup mata.
“Aku tidak tahu dari mana ini datang…”
Cahaya semakin besar.
“Tapi kalau ini bisa menyelamatkan kamu…”
Aku menarik napas dalam.
“…aku tidak akan ragu.”
“BERHENTI!!”
Kamu berteriak.
Mencoba menarikku.
Namun sudah terlambat.
Cahaya itu meledak.
Menyelimuti kita berdua.
Kegelapan itu menjerit.
“INI TIDAK MUNGKIN!!”
Energi itu pecah.
Terurai.
Terbakar oleh cahaya.
Aku merasakan sesuatu…
ditarik keluar dariku.
Lemah.
Kosong.
Namun—
hangat.
“Aku… di sini…”
Suaraku mulai melemah.
Kamu memelukku.
Kali ini—
dengan panik.
“Jangan lakukan ini…!”
Aku tersenyum.
“Bukankah… ini yang kamu takutkan…?”
Air matamu jatuh.
“Aku tidak takut kehilangan kamu…”
Aku menatap matamu.
“Aku takut… tidak bisa menyelamatkan kamu.”
Sunyi.
Cahaya semakin terang.
Kegelapan itu—
perlahan menghilang.
Namun—
bersamaan dengan itu—
tenagaku juga menghilang.
“Tidak…”
Suaramu bergetar.
“Kamu tidak boleh pergi…”
Aku menyentuh wajahmu.
Pelan.
“Aku tidak pergi…”
Aku tersenyum.
Lembut.
“Aku hanya… memilih.”
Matamu dipenuhi air mata.
“Memilih apa…?”
Aku menutup mata perlahan.
“Memilih kamu.”
Cahaya itu—
menelan semuanya.
Dan saat semuanya mereda—
Ruangan itu kembali sunyi.
Tidak ada kegelapan.
Tidak ada cahaya.
Hanya kamu.
Berdiri sendiri.
Memeluk sesuatu yang sudah—
tidak ada.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..
👉 Situs Game Online Terbesar & Terperc aya SERVER THAILAND

