Thursday, April 23, 2026

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 6

CINCINSLOT   -  Pelukanku masih erat.

Namun tubuhmu—

semakin bergetar.

“Lepaskan aku…”

Suaramu berat.

Bukan seperti kamu.

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Cahaya di sekeliling kita mulai retak.

Seperti kaca yang hampir pecah.

Bayangan gelap di tubuhmu bergerak—

merambat.

Mengambil alih.

“Aku tidak bisa menahannya…”

Kamu menggenggam lenganku.

Kuat.

Terlalu kuat.

Rasa sakit menjalar.

Namun aku tidak melepaskanmu.

“Kalau kamu terus di sini…”

Napasmu tidak teratur.

“…aku akan menyakitimu.”

Aku menatap matamu.

Yang kini—

setengah terang.

Setengah gelap.

“Kalau itu yang harus aku rasakan…”

Air mataku jatuh.

“…aku tetap tidak akan pergi.”

Sunyi.

Untuk sesaat—

semuanya berhenti.

Seolah dunia…

menunggu keputusanmu.

Namun tiba-tiba—

kegelapan itu meledak.

“PERGI!!”

Gelombang energi menghantam ruangan.

Mendorong tubuhku ke belakang.

Aku terjatuh.

Napas tersengal.

“Kamu…!”

Aku mencoba bangkit.

Namun kamu—

sudah berubah.

Bayangan hitam menyelimuti tubuhmu.

Matamu…

bukan lagi milikmu sepenuhnya.

“Aku sudah bilang…”

Suaramu bergema.

Namun ada dua suara di dalamnya.

“…jangan mendekat.”

Aku berdiri.

Meski lututku gemetar.

“Kalau kamu ingin menjauh…”

Aku menatapmu.

“Lihat aku dan katakan itu lagi.”

Kamu membeku.

Tubuhmu bergetar hebat.

“Pergi…”

Kali ini lebih pelan.

Lebih… manusia.

Aku melangkah maju.

“Tidak.”

Satu langkah lagi.

Kegelapan itu bergerak liar.

Seolah marah.

“Kenapa kamu keras kepala…?”

Aku tersenyum kecil.

Di tengah tangis.

“Karena kamu yang mengajarkanku untuk tetap tinggal.”

Sunyi.

Kata-kata itu—

menembus sesuatu di dalam dirimu.

Kamu menutup mata.

Menggenggam kepalamu.

“Diam…”

Seolah kamu berbicara pada dirimu sendiri.

“Jangan dengarkan dia…”

Aku berhenti.

“Kamu… melawannya?”

Tidak ada jawaban.

Namun tubuhmu—

berjuang.

Kegelapan dan cahaya bertabrakan.

Aku melihatnya.

Dengan jelas.

Kamu tidak berubah sepenuhnya.

Kamu sedang…

berjuang.

Aku menggenggam tanganku.

“Aku di sini…”

Suaraku pelan.

“Aku tidak akan pergi.”

Kamu membuka mata.

Dan untuk sesaat—

cahaya itu kembali.

“…kenapa…”

Suaramu lemah.

“…kamu tetap memilih aku…?”

Aku tersenyum.

“Karena aku tidak mencintai versimu yang sempurna.”

Aku melangkah mendekat lagi.

“Aku mencintai kamu… yang berjuang.”

Air matamu jatuh.

Dan untuk pertama kalinya—

kegelapan itu… mundur.

Sedikit.

Namun—

tiba-tiba—

suara lain muncul.

Lebih dalam.

Lebih gelap.

“Kalau begitu… aku akan menghancurkan dia.”

Aku membeku.

Kamu menegang.

“Tidak…!”

Namun sudah terlambat.

Kegelapan itu—

bukan hanya bagian dari kamu.

Ia adalah sesuatu yang hidup.

Dan sekarang—

ia menatapku.

Sebagai target.

Aku berdiri diam.

Namun tidak mundur.

“Kalau kamu ingin menghancurkan sesuatu…”

Aku menatapnya.

“…hancurkan aku.”

Kamu terkejut.

“Jangan…!”

Namun aku tetap berdiri.

“Karena selama aku di sini…”

Air mataku jatuh.

“…dia tidak akan sendirian.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

kegelapan itu…

ragu lagi.

Jika Aku Harus Hilang untukmu

CINCINSLOT   -  Kegelapan itu… terdiam.

Untuk sesaat.

Seolah mempertimbangkan kata-kataku.

Namun hanya sesaat.

“Pengorbanan…”

Suara itu bergema.

Dalam.

Dingin.

“…selalu menjadi awal dari kehancuran.”

Aku tidak bergerak.

Meski tubuhku gemetar.

“Kalau itu kehancuran…”

Aku menatapnya.

“…biarkan aku yang menanggungnya.”

“Diam!”

Kamu berteriak.

Tubuhmu kembali bergetar hebat.

“Jangan bicara seperti itu…!”

Aku menoleh padamu.

Air mataku jatuh.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu…”

Suaraku pecah.

“…tapi aku juga tidak ingin melihat kamu hilang sedikit demi sedikit.”

Sunyi.

Kata-kata itu—

menyakitkan.

Untukku.

Dan untukmu.

Kamu terdiam.

Matamu kembali bergetar.

“Aku…”

Suaramu melemah.

“…aku juga tidak ingin kehilangan kamu.”

Jantungku berdegup.

Untuk pertama kalinya—

kamu mengatakannya.

Namun—

kegelapan itu tertawa.

“Kalian berdua terlalu lemah…”

Energi hitam itu membesar.

Mengelilingi tubuhmu.

Menekan.

Menguasai.

Aku melihatnya.

Dengan jelas.

Kalau ini terus berlanjut—

kamu akan hilang.

Aku menggenggam tanganku.

Kuat.

“Aku mengerti sekarang…”

Bisikku pelan.

Kamu menatapku.

“Apa…?”

Aku tersenyum.

Namun kali ini—

tenang.

“Kenapa kamu menjauh.”

Sunyi.

“Apa yang akan kamu lakukan…?”

Suaramu panik.

Aku melangkah mendekat.

Satu langkah.

Kegelapan itu bergerak.

Menghalangiku.

Namun aku tetap maju.

“Kamu bilang… kamu akan kehilangan aku…”

Aku menatapmu.

“Kalau aku tetap di sini.”

Langkahku tidak berhenti.

“Kalau begitu…”

Air mataku jatuh.

“…aku yang akan mengakhiri ini.”

Matamu melebar.

“Jangan…!”

Aku tersenyum.

Lembut.

“Untuk pertama kalinya…”

Aku mengangkat tanganku.

Menyentuh dadamu.

Tempat di mana kegelapan itu berpusat.

“…biarkan aku melindungi kamu.”

Cahaya muncul.

Dari tanganku.

Dari dalam diriku.

Hangat.

Lembut.

Namun kuat.

Kegelapan itu langsung bereaksi.

“Apa ini…?!”

Energi hitam itu bergetar.

Seolah terancam.

Aku menutup mata.

“Aku tidak tahu dari mana ini datang…”

Cahaya semakin besar.

“Tapi kalau ini bisa menyelamatkan kamu…”

Aku menarik napas dalam.

“…aku tidak akan ragu.”

“BERHENTI!!”

Kamu berteriak.

Mencoba menarikku.

Namun sudah terlambat.

Cahaya itu meledak.

Menyelimuti kita berdua.

Kegelapan itu menjerit.

“INI TIDAK MUNGKIN!!”

Energi itu pecah.

Terurai.

Terbakar oleh cahaya.

Aku merasakan sesuatu…

ditarik keluar dariku.

Lemah.

Kosong.

Namun—

hangat.

“Aku… di sini…”

Suaraku mulai melemah.

Kamu memelukku.

Kali ini—

dengan panik.

“Jangan lakukan ini…!”

Aku tersenyum.

“Bukankah… ini yang kamu takutkan…?”

Air matamu jatuh.

“Aku tidak takut kehilangan kamu…”

Aku menatap matamu.

“Aku takut… tidak bisa menyelamatkan kamu.”

Sunyi.

Cahaya semakin terang.

Kegelapan itu—

perlahan menghilang.

Namun—

bersamaan dengan itu—

tenagaku juga menghilang.

“Tidak…”

Suaramu bergetar.

“Kamu tidak boleh pergi…”

Aku menyentuh wajahmu.

Pelan.

“Aku tidak pergi…”

Aku tersenyum.

Lembut.

“Aku hanya… memilih.”

Matamu dipenuhi air mata.

“Memilih apa…?”

Aku menutup mata perlahan.

“Memilih kamu.”

Cahaya itu—

menelan semuanya.

Dan saat semuanya mereda—

Ruangan itu kembali sunyi.

Tidak ada kegelapan.

Tidak ada cahaya.

Hanya kamu.

Berdiri sendiri.

Memeluk sesuatu yang sudah—

tidak ada.






**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terperc aya  SERVER THAILAND

Wednesday, April 22, 2026

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 5

 

Di Balik Pintu yang Terbuka

CINCINSLOT   -  Pintu itu… sedikit terbuka.

Gelap di dalamnya.

Sunyi.

Namun anehnya—

aku tidak merasa takut.

Langkahku pelan.

Namun pasti.

Setiap jejak kakiku di lantai kayu tua itu… terdengar jelas.

Seolah tempat ini belum terbiasa menerima kehadiran siapa pun.

“Kalau kamu di sini…”

Bisikku pelan.

“…aku akan menemukanmu.”

Aku mendorong pintu itu.

Perlahan.

KREKK…

Suara kayu tua bergema.

Dan saat pintu terbuka sepenuhnya—

aku masuk.

Di dalam—

gelap.

Namun bukan gelap yang kosong.

Lebih seperti…

gelap yang menyimpan sesuatu.

Cahaya dari luar hanya cukup untuk memperlihatkan sedikit bagian ruangan.

Dinding tua.

Debu yang berterbangan.

Dan—

jejak langkah di lantai.

Jejak itu…

mengarah ke dalam.

Aku mengikuti.

Tanpa ragu.

Tanpa berpikir dua kali.

Lorong itu panjang.

Lebih panjang dari yang terlihat dari luar.

Seperti bangunan ini… lebih besar di dalamnya.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Namun bukan karena takut.

Melainkan—

karena harapan.

Di ujung lorong—

ada cahaya.

Kecil.

Namun nyata.

Aku mempercepat langkah.

Dan saat aku sampai—

aku berhenti.

Sebuah ruangan.

Lebih terang dari yang lain.

Di tengahnya—

ada seseorang.

Tubuhku membeku.

Napas tertahan.

“…kamu?”

Sosok itu berdiri membelakangiku.

Diam.

Tidak bergerak.

Rambutnya.

Posturnya.

Semuanya…

terlalu familiar.

Aku melangkah lebih dekat.

Perlahan.

Hampir takut… kalau semua ini hanya ilusi.

“Ini aku…”

Suaraku pelan.

Bergetar.

“…aku datang.”

Sosok itu akhirnya bergerak.

Pelan.

Dan saat ia berbalik—

Aku terdiam.

Itu bukan kamu.

Mataku melebar.

Jantungku seolah jatuh.

Sosok itu menatapku.

Dengan mata yang… sama.

Namun berbeda.

“Jadi… kamu yang datang sejauh ini.”

Suaranya tenang.

Namun dingin.

“Aku pikir… kamu tidak akan sampai.”

Aku mundur satu langkah.

“Siapa kamu…?”

Ia tersenyum tipis.

Namun tidak hangat.

“Aku?”

Ia melangkah mendekat.

“Seseorang yang dia tinggalkan.”

Sunyi.

Kata-kata itu… terasa berat.

“Dia… ada di mana?”

Aku bertanya.

Cepat.

Ia berhenti tepat di depanku.

Menatapku dalam.

“Kenapa kamu mencarinya?”

Aku menggenggam tanganku.

“Karena aku harus.”

Ia mengangkat alis.

“Harus… atau ingin?”

Aku terdiam.

Namun hanya sesaat.

“Keduanya.”

Ia tersenyum lagi.

Namun kali ini—

lebih tajam.

“Jawaban yang jujur.”

Sunyi.

“Dia tidak ada di sini.”

Ia akhirnya berkata.

Hatiku terasa kosong seketika.

“Tapi…”

Ia melanjutkan.

“…dia akan datang.”

Aku menatapnya.

“Ke sini…?”

Ia mengangguk pelan.

“Dan saat dia datang…”

Ia menatapku lebih dalam.

“…kamu harus siap.”

“Siap untuk apa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Namun kali ini—

tatapannya berubah.

Lebih serius.

Lebih… berat.

“Siap melihat dia… bukan seperti yang kamu kenal.”

Sunyi.

Kata-kata itu…

membuat hatiku bergetar.

“Dia… berubah?”

Ia tersenyum tipis.

“Semua orang berubah… saat mereka mencoba melindungi sesuatu.”

Aku terdiam.

“Dan kamu…”

Ia melangkah melewatiku.

“…mungkin adalah alasan dia berubah.”

Jantungku berdegup kencang.

Aku menoleh.

“Ingat satu hal.”

Ia berhenti di pintu.

“Kadang… orang yang kamu cari…”

Ia menatapku sekali lagi.

“…adalah orang yang paling berbahaya untuk kamu temukan.”

Dan setelah itu—

ia pergi.

Sunyi kembali.

Aku berdiri sendiri di ruangan itu.

Dengan pertanyaan yang semakin banyak.

Dengan hati yang semakin berat.

Namun—

aku tidak mundur.

Aku menatap ke depan.

Ke tempat di mana ia bilang kamu akan datang.

Dan aku tahu—

momen itu…

sudah dekat.

“Kalau kamu berubah…”

Bisikku pelan.

“…aku tetap akan mengenalimu.”

Cahaya di ruangan itu bergetar.

Angin masuk tanpa arah.

Dan untuk pertama kalinya—

aku merasakan sesuatu.

Bukan kehadiran orang lain.

Namun…

kedatanganmu.

Kamu… yang Berbeda

CINCINSLOT   -  Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

Angin berhembus tanpa arah.

Cahaya kecil di langit-langit bergetar… seolah merespons sesuatu.

Aku berdiri diam.

Tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Namun hatiku—

berteriak.

Kamu datang.

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Pelan.

Namun jelas.

Setiap langkah… terasa semakin dekat.

Jantungku berdetak cepat.

Tanganku gemetar.

Namun aku tidak mundur.

Langkah itu berhenti.

Tepat di depan pintu.

Sunyi.

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Lalu—

pintu itu terbuka.

Cahaya dari luar masuk.

Menyinari sosok di ambang pintu.

Aku menatapnya.

Dan—

napasku terhenti.

Itu kamu.

Namun…

tidak sepenuhnya.

Matamu.

Masih sama.

Namun ada sesuatu di dalamnya…

yang berbeda.

Lebih dalam.

Lebih gelap.

Seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa aku jangkau.

“…kamu datang.”

Suaramu pelan.

Namun tidak sehangat dulu.

Aku menatapmu.

Air mataku mulai jatuh.

“Kenapa kamu pergi…?”

Kamu tidak langsung menjawab.

Hanya menatapku.

Lama.

“Aku tidak pergi…”

Katamu akhirnya.

“Aku hanya… menjauh.”

“Kenapa…?”

Suaraku pecah.

Sunyi.

Kamu melangkah masuk.

Perlahan.

Setiap langkahmu… membuatku semakin yakin.

Ini kamu.

Namun juga bukan kamu yang dulu.

“Aku tidak ingin kamu terlibat.”

Jawaban itu—

aku sudah menduganya.

Namun tetap terasa menyakitkan.

“Aku sudah terlibat.”

Aku menatapmu.

“Aku datang sejauh ini.”

Kamu terdiam.

Matamu turun.

Melihat surat yang masih aku genggam.

“Kamu menemukannya…”

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu tidak memberikannya langsung padaku…?”

Kamu tersenyum kecil.

Namun pahit.

“Karena kalau aku melihatmu saat itu…”

Kamu menatapku lagi.

“…aku tidak akan bisa pergi.”

Sunyi.

Air mataku jatuh tanpa bisa aku tahan.

“Kamu pikir… aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?”

Kamu tidak menjawab.

Namun matamu…

terlihat bergetar.

Aku melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga akhirnya—

kita berdiri sangat dekat.

“Apa yang terjadi sama kamu…?”

Suaraku pelan.

“Kamu berubah.”

Kamu menutup mata sejenak.

Seolah menahan sesuatu.

“Aku harus berubah.”

“Kenapa…?”

Kamu membuka matamu.

Dan untuk pertama kalinya—

aku melihat sesuatu di sana.

Rasa takut.

“Karena kalau aku tetap seperti dulu…”

Suaramu melemah.

“…aku akan kehilanganmu.”

Jantungku berdegup keras.

“Apa maksudmu…?”

Kamu terdiam.

Namun kali ini—

tidak menghindar.

“Ada sesuatu yang aku bawa…”

Kamu menunduk sedikit.

“Sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan.”

Sunyi.

“Dan kalau aku tetap dekat denganmu…”

Kamu menatapku lagi.

“…kamu akan terluka.”

Aku menggeleng.

“Jangan putuskan itu sendiri.”

Kamu mengepalkan tanganmu.

“Aku tidak ingin mengambil risiko itu.”

“Aku mau mengambilnya.”

Jawabanku cepat.

Tanpa ragu.

Kamu terdiam.

Aku melangkah lebih dekat lagi.

Hingga jarak di antara kita…

hampir tidak ada.

“Aku tidak peduli kamu berubah…”

Air mataku jatuh.

“Aku tidak peduli kamu membawa apa…”

Aku menatap matamu.

Dalam.

“Aku tetap memilih kamu.”

Sunyi.

Kata-kata itu…

menghentikan segalanya.

Kamu menatapku.

Lama.

Sangat lama.

Dan untuk sesaat—

aku melihat kamu yang dulu.

Namun—

cahaya di ruangan tiba-tiba meredup.

Angin bertiup lebih kencang.

Dan tubuhmu—

bergetar.

“…tidak…”

Kamu mundur satu langkah.

“Apa yang terjadi…?”

Aku panik.

Kamu menahan kepalamu.

Seperti kesakitan.

“Aku bilang… kamu tidak boleh di sini…”

Suaramu berubah.

Lebih berat.

Lebih… gelap.

“Pergi…”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“PERGI!”

Suaramu menggema.

Bukan hanya suaramu.

Sesuatu di dalam dirimu…

mulai keluar.

Cahaya di matamu berubah.

Gelap.

Aku membeku.

Namun tetap berdiri.

“Aku tidak akan pergi…”

Suaraku pelan.

Namun tegas.

“Aku sudah menemukanmu.”

Tubuhmu bergetar lebih kuat.

“Kalau kamu tidak pergi…”

Kamu menatapku—

namun bukan kamu yang mengendalikan sepenuhnya.

“…aku tidak bisa menahan ini.”

Sunyi.

Aku menarik napas.

Air mataku jatuh.

Namun aku tetap melangkah maju.

Satu langkah lagi.

Dan aku memelukmu.

Kamu membeku.

“Aku tidak takut…”

Bisikku pelan.

“Kalau ini yang harus aku hadapi…”

Aku memelukmu lebih erat.

“…aku akan tetap di sini.”

Cahaya dan kegelapan di sekitarmu bergetar hebat.

Dan untuk pertama kalinya—

kekuatan itu…

ragu.






**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terperc aya  SERVER THAILAND

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 6

  Di Antara Cahaya dan Kegelapan CINCINSLOT    -    Pelukanku masih erat. Namun tubuhmu— semakin bergetar. “Lepaskan aku…” Suaramu berat. Bu...