CINCINSLOT - Senja itu datang seperti biasa—tenang, lembut, dan penuh rahasia.
Aku duduk di bangku taman, menatap langit yang perlahan berubah warna. Jingga, ungu, lalu sedikit merah… seperti perasaan yang tidak sempat diberi nama.
Dan di saat itulah—
kamu datang.
Tidak dengan cara yang dramatis.
Tidak ada musik, tidak ada angin yang berlebihan.
Hanya langkah kecil… dan terjadilah yang tanpa sengaja bertemu denganku.
“Maaf… ini tempat duduknya kosong?”
Suaramu pelan.
Namun cukup untuk membuat dunia berhenti sebentar.
Aku terharu.
Dan kamu duduk di sampingku.
Dekat.
Namun tidak terlalu dekat.
Seperti dua orang asing yang belum tahu… bahwa mereka akan saling menjadi segalanya.
Kita tidak langsung bicara.
Hanya diam.
Menatap senja yang sama.
Namun anehnya… diam itu tidak aneh.
Justru terasa… pas.
Seolah semesta memang ingin kita bertemu tanpa kata terlebih dahulu.
“Menurutmu…kenapa senja selalu terasa sedih?”
Kamu bertanya tiba-tiba.
Aku.
Matamu masih bersinggungan di langit.
Aku tersenyum kecil.
“Mungkin… karena dia tahu, setelah ini akan gelap.”
Kamu tertawa pelan.
“Tapi aneh ya… orang tetap menunggunya setiap hari.”
Aku terharu.
“Karena sebentar lagi… senja itu indah.”
Kamu akhirnya menyerah.
Dan saat itu—
aku tahu.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan di dunia.
Tapi di dalam diriku.
“Aku sering ke sini,” katamu.
“Aku juga,” jawabku.
Padahal… itu bohong.
Aku bahkan tidak pernah benar-benar memperhatikan tempat ini sebelumnya.
Namun sejak kamu ada—
tempat ini terasa seperti rumah.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Langit semakin gelap.
Lampu taman mulai menyala satu per satu.
Dan tanpa sadar—
kita sudah berbicara tentang banyak hal.
Tentang mimpi.
Tentang ketakutan.
Tentang hal-hal kecil yang tidak penting bagi dunia… tapi berarti bagi kita.
“Aneh ya,” katamu pelan,
“kita baru kenal… tapi rasanya sudah lama.”
Aku tersenyum.
“Karena mungkin… kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu.”
Kamu sentuhku.
Lebih lama dari sebelumnya.
Dan aku tidak berpaling.
Senja itu akhirnya hilang.
Namun sesuatu yang lain… baru saja dimulai.
Sebelum pergi, kamu berdiri.
“Besok… kamu ke sini lagi?”
Aku · sesaat.
Namun hatiku sudah menjawab lebih dulu.
“Iya.”
Kamu tersenyum.
“Kalau begitu… sampai besok.”
Dan saat kamu berjalan menjauh—
aku tidak mengejarmu.
Tidak diucapkan.
Namun di dalam hati, aku tahu satu hal—
aku akan datang lagi.
Bukan karena senja.
Tapi karena kamu.
Perasaan yang Mulai Tumbuh
CINCINSLOT - Keesokan harinya—
aku datang lebih awal.
Lebih cepat dari biasanya.
Lebih cepat dari alasan yang bisa saya jelaskan.
Bangku itu masih kosong.
Senja belum sepenuhnya turun.
Namun hatiku… sudah menunggu.
Aku duduk.
Berusaha terlihat biasa.
Padahal setiap detik terasa lebih lama dari biasanya.
Angin berhembus pelan.
Daun-daun berguguran.
Dan pikiranku… hanya berisi satu hal—
kamu.
“Jadi… kamu benar-benar datang.”
Suaramu.
Dari belakang.
Aku mengiris cepat.
Dan di sana—
kamu berdiri.
Dengan senyum kecil yang sama seperti kemarin.
Aku tersenyum.
“Katanya kita ketemu lagi.”
Kamu mendekat.
Duduk di sampingku.
Kali ini… sedikit lebih dekat.
Tidak lagi sejauh kemarin.
“Kamu datang dari tadi?” tanyamu.
Aku menggeleng pelan.
“Baru saja.”
Padahal—
aku sudah menunggu lebih lama dari yang ingin aku akui.
Kamu tersenyum kecil.
Mungkin tahu aku berbohong.
Namun memilih untuk tidak membongkarnya.
Senja mulai turun.
Langit kembali melukis warna-warna yang sama.
Namun rasanya berbeda.
Lebih hidup.
Lebih… berarti.
“Kamu percaya nggak… kalau pertemuan itu bukan kebetulan?”
Kamu bertanya.
Aku menatapmu.
“Percaya.”
“Kok yakin?”
Aku mengelilingi tipi.
“Karena kalau ini kebetulan…”
Aku menatap langit, lalu kembali ke matamu.
“…aku harap kebetulan ini tidak akan pernah berakhir.”
Kamu.
Pipi kamu sedikit .
Dan untuk pertama kalinya—
aku melihat kamu tidak tahu harus berkata apa.
“Aku… suka senja,” katamu pelan.
“Tapi sekarang… aku mulai suka alasan di baliknya.”
Aku;
“Alasan?”
Kamu sentuhku.
“Karena di sini… aku bisa bertemu kamu.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat sadar—
sesuatu mulai berubah.
Kita tertawa bersama.
Bicara lebih banyak dari kemarin.
Lebih ringan.
Lebih dekat.
Seolah-olah jarak di antara kita mulai hilang… sedikit demi sedikit.
Tanpa sadar—
tangan kita hampir menyentuh.
Hanya beberapa sentimeter.
Namun tidak ada yang menjauh.
Tidak juga benar-benar mendekat.
Seolah kita berdua…
menghancurkan ketakutan akan sesuatu yang masih terlalu indah untuk terburu-buru.
“Kamu aneh,” katamu tiba-tiba.
Aku tertawa kecil.
“Apa?”
“Karena aku baru mengenalmu…”
Kamu pilih sedikit.
“…tapi aku sudah mulai menunggu kamu.”
Aku.
Kata-kata itu sederhana.
Namun terasa lebih dalam dari apa pun.
“Kalau begitu…” kataku pelan,
“Aku juga aneh.”
Kamu sentuhku.
“Apa?”
Aku tersenyum.
“Karena aku tidak ingin berhenti menunggumu.”
Senja perlahan tenggelam.
Namun kali ini—
tidak ada rasa sedih.
Karena sesuatu telah tumbuh.
Perlahan.
Tanpa kita sadari.
Sebelum pulang—
kamu berdiri lebih dulu.
Namun kali ini, kamu tidak langsung pergi.
Kamu.
“Besok… kamu ke sini lagi?”
Aku tersenyum.
Pertanyaan yang sama.
Namun dengan rasa yang berbeda.
“Iya.”
Kamu tersenyum.
Namun kali ini—
lebih hangat.
Lebih dalam.
Dan saat kamu berjalan menjauh—
aku tidak hanya menatapmu.
Aku menunggu.
Untuk besok.
Untuk senja berikutnya.
Untuk kamu.
Karena sekarang aku tahu—
ini bukan lagi tentang pertemuan.
Ini tentang perasaan… yang mulai tumbuh tanpa izin.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

No comments:
Post a Comment