CINCINSLOT - Hari itu—
aku kembali datang.
Seperti biasa.
Bangku yang sama.
Waktu yang sama.
Namun—
rasanya berbeda.
Aku menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Senja mulai turun perlahan.
Namun kamu… belum datang.
Angin berhembus lebih dingin dari biasanya.
Daun-daun jatuh di sekitarku.
Dan untuk pertama kalinya—
senja terasa… sepi.
“Aneh…” bisikku pelan.
Biasanya aku menunggu dengan senyum.
Namun hari ini—
aku menunggu dengan gelisah.
Aku mencoba menenangkan diri.
Mungkin kamu terlambat.
Mungkin ada sesuatu.
Namun semakin waktu berjalan—
pikiran itu berubah.
Menjadi kekhawatiran.
Saat langit hampir sepenuhnya jingga—
akhirnya—
aku melihatmu.
Berjalan ke arahku.
Namun langkahmu… berbeda.
Lebih lambat.
Lebih berat.
“Kamu… datang,” kataku pelan.
Kamu tersenyum.
Namun tidak seperti biasanya.
“Iya… maaf ya, aku telat.”
Aku menggeleng.
“Tidak apa.”
Namun hatiku tahu—
ada yang berubah.
Kamu duduk di sampingku.
Namun kali ini—
tidak sedekat kemarin.
Ada jarak kecil di antara kita.
Jarak yang tidak terlihat…
tapi terasa.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
Kamu terdiam sejenak.
Menatap senja.
Lama.
Seperti mencari jawaban di sana.
“Aku mungkin… tidak bisa sering ke sini lagi.”
Kalimat itu—
jatuh pelan.
Namun terasa berat.
Aku terdiam.
“Kenapa…?”
Kamu tersenyum kecil.
Namun matamu tidak ikut tersenyum.
“Ada hal yang harus aku lakukan.”
Jawaban yang sederhana.
Namun tidak menjelaskan apa pun.
Aku menunduk.
Tidak tahu harus berkata apa.
Karena untuk pertama kalinya—
aku merasa…
aku bisa kehilanganmu.
“Ini… mendadak ya,” katamu pelan.
Aku tertawa kecil.
Namun terasa pahit.
“Iya… sedikit.”
Sunyi.
Senja tetap indah.
Namun kini—
tidak lagi hangat.
“Aku tidak ingin ini berubah,” kataku akhirnya.
Kamu menoleh.
Matamu lembut.
“Aku juga.”
“Lalu kenapa…?”
Pertanyaanku menggantung.
Namun kamu tidak langsung menjawab.
“Ada hal di hidupku… yang tidak bisa aku hindari.”
Suaramu pelan.
“Dan aku tidak ingin kamu ikut terbawa…”
Aku menatapmu.
“Kenapa kamu memutuskan itu sendirian…?”
Kamu terdiam.
Lama.
“Karena…” kamu menarik napas pelan,
“…aku mulai terlalu nyaman denganmu.”
Jantungku berdegup.
“Dan itu salah?”
Kamu tersenyum pahit.
“Bukan salah…”
Matamu akhirnya menatapku.
“…tapi berbahaya.”
Sunyi.
Kata itu—
terasa asing.
Namun menyakitkan.
Aku mengepalkan tanganku.
“Kalau berbahaya… kita hadapi sama-sama.”
Kamu menggeleng pelan.
“Tidak semua hal bisa dihadapi berdua.”
Senja mulai menghilang.
Langit perlahan gelap.
Namun aku masih belum siap… kehilangan cahaya itu.
“Kamu akan tetap datang besok?” tanyaku.
Kamu terdiam.
Lama.
Sangat lama.
“Aku… tidak tahu.”
Jawaban itu—
lebih menyakitkan dari penolakan.
Aku tersenyum.
Meski sulit.
“Kalau begitu… aku akan tetap datang.”
Kamu menatapku.
Terkejut.
“Kenapa…?”
Aku menatap senja yang hampir hilang.
“Karena aku tidak ingin melewatkan kemungkinan… sekecil apa pun… untuk bertemu kamu.”
Kamu tidak menjawab.
Namun matamu… bergetar.
Dan malam itu—
kita pulang tanpa banyak kata.
Tidak seperti biasanya.
Namun sebelum benar-benar pergi—
kamu berhenti.
Menoleh padaku.
“Kalau suatu hari aku benar-benar tidak datang…”
Suaramu pelan.
“…apa kamu masih akan menunggu?”
Aku tersenyum.
Meski hatiku tidak baik-baik saja.
“Aku tidak tahu sampai kapan…”
Aku menatapmu.
“Tapi aku tahu satu hal—”
“Selama senja masih ada… aku akan tetap di sini.”
Kamu terdiam.
Lalu—
tersenyum.
Namun kali ini—
dengan mata yang hampir menangis.
Dan untuk pertama kalinya—
aku merasa—
senja tidak hanya mempertemukan kita…
tapi juga mulai menguji kita.
Hari di Mana Kamu Tidak Datang
CINCINSLOT - Hari itu—
aku datang lagi.
Lebih awal dari biasanya.
Seperti kemarin.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Seperti seseorang yang masih percaya… bahwa harapan belum benar-benar pergi.
Bangku itu kosong.
Langit masih biru.
Senja belum turun.
Namun aku sudah duduk di sana.
Menunggu.
Aku tidak membawa apa-apa.
Tidak buku.
Tidak ponsel.
Karena aku tahu—
aku hanya akan melihat satu arah.
Jalan tempat kamu biasanya datang.
Waktu berjalan.
Perlahan.
Namun terasa sangat lama.
Senja mulai muncul.
Warna jingga mulai menyebar di langit.
Cantik.
Seperti biasa.
Namun—
tidak lengkap.
Aku tersenyum kecil.
“Mungkin kamu telat lagi…”
Bisikku pada diri sendiri.
Mencoba percaya.
Mencoba berharap.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada suara yang aku kenal.
Tidak ada… kamu.
Angin berhembus.
Lebih dingin.
Lebih kosong.
Aku menatap bangku di sampingku.
Tempat kamu biasanya duduk.
Tempat di mana kita tertawa.
Tempat di mana semuanya terasa mudah.
Sekarang—
hanya ada ruang kosong.
Aku menunduk.
Jari-jariku menggenggam erat.
Seolah menahan sesuatu yang hampir jatuh.
“Aku bilang aku akan menunggu…”
Suaraku pelan.
Namun bergetar.
“…jadi aku akan tetap di sini.”
Langit semakin gelap.
Senja mulai menghilang.
Dan malam… perlahan mengambil alih.
Namun aku tidak pergi.
Lampu taman menyala.
Satu per satu.
Menerangi bangku itu.
Menerangi kesendirian.
“Aneh ya…”
Aku tertawa kecil.
Namun terasa hampa.
“Kemarin kita di sini berdua…”
Aku menatap ke samping.
“…sekarang cuma aku.”
Angin kembali berhembus.
Membawa daun jatuh.
Dan untuk sesaat—
aku berharap…
angin itu membawa kamu juga.
Namun tidak.
Akhirnya—
aku berdiri.
Perlahan.
Bukan karena ingin pergi.
Namun karena aku harus.
Sebelum melangkah—
aku menoleh sekali lagi.
Ke bangku itu.
Ke tempat kita.
“Besok…”
Aku tersenyum kecil.
“…aku akan datang lagi.”
Dan aku pergi.
Dengan langkah yang lebih berat.
Dengan hati yang lebih kosong.
Namun—
dengan harapan yang belum benar-benar hilang.
Di tempat lain—
di waktu yang sama—
kamu berdiri.
Jauh.
Melihat langit yang sama.
Senja yang sama.
Air matamu jatuh.
“Aku minta maaf…”
Bisikmu pelan.
“…aku tidak bisa datang.”
Tanganmu menggenggam sesuatu.
Sebuah kertas kecil.
Yang tidak pernah sampai padaku.
Dan di dalamnya tertulis—
sesuatu yang bisa mengubah segalanya.
Namun aku tidak pernah membacanya.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

No comments:
Post a Comment