Wednesday, April 22, 2026

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 5

 

Di Balik Pintu yang Terbuka

CINCINSLOT   -  Pintu itu… sedikit terbuka.

Gelap di dalamnya.

Sunyi.

Namun anehnya—

aku tidak merasa takut.

Langkahku pelan.

Namun pasti.

Setiap jejak kakiku di lantai kayu tua itu… terdengar jelas.

Seolah tempat ini belum terbiasa menerima kehadiran siapa pun.

“Kalau kamu di sini…”

Bisikku pelan.

“…aku akan menemukanmu.”

Aku mendorong pintu itu.

Perlahan.

KREKK…

Suara kayu tua bergema.

Dan saat pintu terbuka sepenuhnya—

aku masuk.

Di dalam—

gelap.

Namun bukan gelap yang kosong.

Lebih seperti…

gelap yang menyimpan sesuatu.

Cahaya dari luar hanya cukup untuk memperlihatkan sedikit bagian ruangan.

Dinding tua.

Debu yang berterbangan.

Dan—

jejak langkah di lantai.

Jejak itu…

mengarah ke dalam.

Aku mengikuti.

Tanpa ragu.

Tanpa berpikir dua kali.

Lorong itu panjang.

Lebih panjang dari yang terlihat dari luar.

Seperti bangunan ini… lebih besar di dalamnya.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Namun bukan karena takut.

Melainkan—

karena harapan.

Di ujung lorong—

ada cahaya.

Kecil.

Namun nyata.

Aku mempercepat langkah.

Dan saat aku sampai—

aku berhenti.

Sebuah ruangan.

Lebih terang dari yang lain.

Di tengahnya—

ada seseorang.

Tubuhku membeku.

Napas tertahan.

“…kamu?”

Sosok itu berdiri membelakangiku.

Diam.

Tidak bergerak.

Rambutnya.

Posturnya.

Semuanya…

terlalu familiar.

Aku melangkah lebih dekat.

Perlahan.

Hampir takut… kalau semua ini hanya ilusi.

“Ini aku…”

Suaraku pelan.

Bergetar.

“…aku datang.”

Sosok itu akhirnya bergerak.

Pelan.

Dan saat ia berbalik—

Aku terdiam.

Itu bukan kamu.

Mataku melebar.

Jantungku seolah jatuh.

Sosok itu menatapku.

Dengan mata yang… sama.

Namun berbeda.

“Jadi… kamu yang datang sejauh ini.”

Suaranya tenang.

Namun dingin.

“Aku pikir… kamu tidak akan sampai.”

Aku mundur satu langkah.

“Siapa kamu…?”

Ia tersenyum tipis.

Namun tidak hangat.

“Aku?”

Ia melangkah mendekat.

“Seseorang yang dia tinggalkan.”

Sunyi.

Kata-kata itu… terasa berat.

“Dia… ada di mana?”

Aku bertanya.

Cepat.

Ia berhenti tepat di depanku.

Menatapku dalam.

“Kenapa kamu mencarinya?”

Aku menggenggam tanganku.

“Karena aku harus.”

Ia mengangkat alis.

“Harus… atau ingin?”

Aku terdiam.

Namun hanya sesaat.

“Keduanya.”

Ia tersenyum lagi.

Namun kali ini—

lebih tajam.

“Jawaban yang jujur.”

Sunyi.

“Dia tidak ada di sini.”

Ia akhirnya berkata.

Hatiku terasa kosong seketika.

“Tapi…”

Ia melanjutkan.

“…dia akan datang.”

Aku menatapnya.

“Ke sini…?”

Ia mengangguk pelan.

“Dan saat dia datang…”

Ia menatapku lebih dalam.

“…kamu harus siap.”

“Siap untuk apa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Namun kali ini—

tatapannya berubah.

Lebih serius.

Lebih… berat.

“Siap melihat dia… bukan seperti yang kamu kenal.”

Sunyi.

Kata-kata itu…

membuat hatiku bergetar.

“Dia… berubah?”

Ia tersenyum tipis.

“Semua orang berubah… saat mereka mencoba melindungi sesuatu.”

Aku terdiam.

“Dan kamu…”

Ia melangkah melewatiku.

“…mungkin adalah alasan dia berubah.”

Jantungku berdegup kencang.

Aku menoleh.

“Ingat satu hal.”

Ia berhenti di pintu.

“Kadang… orang yang kamu cari…”

Ia menatapku sekali lagi.

“…adalah orang yang paling berbahaya untuk kamu temukan.”

Dan setelah itu—

ia pergi.

Sunyi kembali.

Aku berdiri sendiri di ruangan itu.

Dengan pertanyaan yang semakin banyak.

Dengan hati yang semakin berat.

Namun—

aku tidak mundur.

Aku menatap ke depan.

Ke tempat di mana ia bilang kamu akan datang.

Dan aku tahu—

momen itu…

sudah dekat.

“Kalau kamu berubah…”

Bisikku pelan.

“…aku tetap akan mengenalimu.”

Cahaya di ruangan itu bergetar.

Angin masuk tanpa arah.

Dan untuk pertama kalinya—

aku merasakan sesuatu.

Bukan kehadiran orang lain.

Namun…

kedatanganmu.

Kamu… yang Berbeda

CINCINSLOT   -  Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

Angin berhembus tanpa arah.

Cahaya kecil di langit-langit bergetar… seolah merespons sesuatu.

Aku berdiri diam.

Tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Namun hatiku—

berteriak.

Kamu datang.

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Pelan.

Namun jelas.

Setiap langkah… terasa semakin dekat.

Jantungku berdetak cepat.

Tanganku gemetar.

Namun aku tidak mundur.

Langkah itu berhenti.

Tepat di depan pintu.

Sunyi.

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Lalu—

pintu itu terbuka.

Cahaya dari luar masuk.

Menyinari sosok di ambang pintu.

Aku menatapnya.

Dan—

napasku terhenti.

Itu kamu.

Namun…

tidak sepenuhnya.

Matamu.

Masih sama.

Namun ada sesuatu di dalamnya…

yang berbeda.

Lebih dalam.

Lebih gelap.

Seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa aku jangkau.

“…kamu datang.”

Suaramu pelan.

Namun tidak sehangat dulu.

Aku menatapmu.

Air mataku mulai jatuh.

“Kenapa kamu pergi…?”

Kamu tidak langsung menjawab.

Hanya menatapku.

Lama.

“Aku tidak pergi…”

Katamu akhirnya.

“Aku hanya… menjauh.”

“Kenapa…?”

Suaraku pecah.

Sunyi.

Kamu melangkah masuk.

Perlahan.

Setiap langkahmu… membuatku semakin yakin.

Ini kamu.

Namun juga bukan kamu yang dulu.

“Aku tidak ingin kamu terlibat.”

Jawaban itu—

aku sudah menduganya.

Namun tetap terasa menyakitkan.

“Aku sudah terlibat.”

Aku menatapmu.

“Aku datang sejauh ini.”

Kamu terdiam.

Matamu turun.

Melihat surat yang masih aku genggam.

“Kamu menemukannya…”

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu tidak memberikannya langsung padaku…?”

Kamu tersenyum kecil.

Namun pahit.

“Karena kalau aku melihatmu saat itu…”

Kamu menatapku lagi.

“…aku tidak akan bisa pergi.”

Sunyi.

Air mataku jatuh tanpa bisa aku tahan.

“Kamu pikir… aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?”

Kamu tidak menjawab.

Namun matamu…

terlihat bergetar.

Aku melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga akhirnya—

kita berdiri sangat dekat.

“Apa yang terjadi sama kamu…?”

Suaraku pelan.

“Kamu berubah.”

Kamu menutup mata sejenak.

Seolah menahan sesuatu.

“Aku harus berubah.”

“Kenapa…?”

Kamu membuka matamu.

Dan untuk pertama kalinya—

aku melihat sesuatu di sana.

Rasa takut.

“Karena kalau aku tetap seperti dulu…”

Suaramu melemah.

“…aku akan kehilanganmu.”

Jantungku berdegup keras.

“Apa maksudmu…?”

Kamu terdiam.

Namun kali ini—

tidak menghindar.

“Ada sesuatu yang aku bawa…”

Kamu menunduk sedikit.

“Sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan.”

Sunyi.

“Dan kalau aku tetap dekat denganmu…”

Kamu menatapku lagi.

“…kamu akan terluka.”

Aku menggeleng.

“Jangan putuskan itu sendiri.”

Kamu mengepalkan tanganmu.

“Aku tidak ingin mengambil risiko itu.”

“Aku mau mengambilnya.”

Jawabanku cepat.

Tanpa ragu.

Kamu terdiam.

Aku melangkah lebih dekat lagi.

Hingga jarak di antara kita…

hampir tidak ada.

“Aku tidak peduli kamu berubah…”

Air mataku jatuh.

“Aku tidak peduli kamu membawa apa…”

Aku menatap matamu.

Dalam.

“Aku tetap memilih kamu.”

Sunyi.

Kata-kata itu…

menghentikan segalanya.

Kamu menatapku.

Lama.

Sangat lama.

Dan untuk sesaat—

aku melihat kamu yang dulu.

Namun—

cahaya di ruangan tiba-tiba meredup.

Angin bertiup lebih kencang.

Dan tubuhmu—

bergetar.

“…tidak…”

Kamu mundur satu langkah.

“Apa yang terjadi…?”

Aku panik.

Kamu menahan kepalamu.

Seperti kesakitan.

“Aku bilang… kamu tidak boleh di sini…”

Suaramu berubah.

Lebih berat.

Lebih… gelap.

“Pergi…”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“PERGI!”

Suaramu menggema.

Bukan hanya suaramu.

Sesuatu di dalam dirimu…

mulai keluar.

Cahaya di matamu berubah.

Gelap.

Aku membeku.

Namun tetap berdiri.

“Aku tidak akan pergi…”

Suaraku pelan.

Namun tegas.

“Aku sudah menemukanmu.”

Tubuhmu bergetar lebih kuat.

“Kalau kamu tidak pergi…”

Kamu menatapku—

namun bukan kamu yang mengendalikan sepenuhnya.

“…aku tidak bisa menahan ini.”

Sunyi.

Aku menarik napas.

Air mataku jatuh.

Namun aku tetap melangkah maju.

Satu langkah lagi.

Dan aku memelukmu.

Kamu membeku.

“Aku tidak takut…”

Bisikku pelan.

“Kalau ini yang harus aku hadapi…”

Aku memelukmu lebih erat.

“…aku akan tetap di sini.”

Cahaya dan kegelapan di sekitarmu bergetar hebat.

Dan untuk pertama kalinya—

kekuatan itu…

ragu.






**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terperc aya  SERVER THAILAND

No comments:

Post a Comment

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 6

  Di Antara Cahaya dan Kegelapan CINCINSLOT    -    Pelukanku masih erat. Namun tubuhmu— semakin bergetar. “Lepaskan aku…” Suaramu berat. Bu...