Friday, April 17, 2026

Cerita Fantasi ( Gerbang Terlarang Itu Memanggil Namaku ) End

 

CINCINSLOT - Gelap.

Namun bukan gelap yang menakutkan.

Melainkan… kosong.

Tanpa suara.

Tanpa arah.

Tanpa waktu.

Nara membuka matanya perlahan.

Tubuhnya terasa ringan… hampir seperti tidak memiliki bentuk.

“Aku… di mana…?”

Suaranya tidak terdengar.

Atau mungkin—

tidak ada udara untuk membawa suara itu.

Ia melihat tangannya.

Namun bentuknya… samar.

Seperti cahaya biru yang bergetar.

“Ini… kehampaan itu…”

Ia mengingat kata-kata pria tua.

“Kau harus melepaskan semuanya…”

Dan kini—

ia mengerti.

Ia tidak lagi sepenuhnya manusia.

Tiba-tiba—

denyutan cahaya terasa.

Lemah.

Namun familiar.

Nara langsung menoleh.

“Raka…”

Tanpa berpikir—

ia bergerak.

Namun bukan berjalan.

Melainkan… melayang.

Mengikuti cahaya itu.

Semakin dekat—

denyutannya semakin kuat.

Seperti jantung.

Seperti kehidupan.

Dan akhirnya—

ia melihatnya.

Sebuah cahaya kecil.

Mengambang di tengah kehampaan.

Namun berbeda dari yang lain.

Lebih hangat.

Lebih… hidup.

Nara berhenti.

Matanya bergetar.

“Itu…”

Ia mendekat perlahan.

Tangannya terulur.

“Raka…?”

Cahaya itu berdenyut.

Lebih kuat.

Seolah menjawab.

Di dalam cahaya itu—

sebuah sosok mulai terlihat.

Kabur.

Namun perlahan—

jelas.

Raka.

Matanya tertutup.

Seperti tertidur.

Namun—

tersenyum.

“Raka…”

Air mata Nara jatuh.

Namun berubah menjadi partikel cahaya sebelum menyentuh apa pun.

Ia menyentuh cahaya itu.

Dan—

hangat.

Sangat hangat.

Mata Raka perlahan terbuka.

“…Nara?”

Suaranya pelan.

Namun jelas.

Nara tersenyum.

“Aku bilang… aku akan datang.”

Raka menatapnya.

Masih tidak percaya.

“Kamu… benar-benar di sini…”

Nara tertawa kecil.

“Jangan kaget begitu… aku sudah sejauh ini.”

Sunyi.

Namun kali ini—

bukan sunyi yang sepi.

Melainkan… damai.

Raka melihat sekeliling.

“Kamu tidak seharusnya ada di sini…”

Nara mengangkat bahu.

“Sudah terlambat untuk bilang itu.”

Raka menghela napas pelan.

Namun tersenyum.

“Memang…”

Ia menatap Nara dalam-dalam.

“Terima kasih… sudah datang.”

Nara menggeleng.

“Kita belum selesai.”

Sunyi.

Raka mengangguk pelan.

“Ya… kita belum selesai.”

Namun—

tiba-tiba—

kehampaan itu bergetar.

Berbeda dari sebelumnya.

Lebih berat.

Lebih… gelap.

Raka langsung menegang.

“Dia… menemukan kita…”

Nara menatap sekeliling.

“Apa maksudmu?”

Dari kejauhan—

kegelapan mulai berkumpul.

Tidak seperti ruang ini.

Lebih pekat.

Lebih nyata.

Dan perlahan—

membentuk sesuatu.

Sosok itu.

Namun—

tidak utuh.

Hanya sebagian.

Namun cukup—

untuk terasa.

“Jadi… ini tempatmu bersembunyi…”

Suaranya menggema.

Namun terdistorsi.

Seperti berasal dari dunia lain.

Raka melangkah maju.

Menempatkan dirinya di depan Nara.

“Dia tidak bersembunyi.”

Suara Nara tegas.

“Kami sedang menunggu.”

Makhluk itu tertawa pelan.

“Menunggu… kehancuran kalian?”

Raka mengepalkan tangannya.

Cahaya di tubuhnya menyala lagi.

Namun kali ini—

lebih stabil.

Lebih dalam.

“Kali ini… berbeda.”

Makhluk itu mendekat.

Meski tidak sepenuhnya masuk—

kehadirannya cukup untuk membuat kehampaan itu bergetar.

“Kalian berada di wilayah yang bukan milik kalian…”

Suaranya dingin.

“Dan aku… akan menghapus kalian dari keberadaan itu sendiri.”

Nara melangkah ke samping Raka.

Cahaya birunya menyala.

Meski lebih kecil—

namun tidak goyah.

“Kita sudah sampai sejauh ini…”

Ia menatap Raka.

“Tidak mungkin kita mundur sekarang.”

Raka tersenyum.

“Tidak akan.”

Makhluk itu mengangkat tangannya.

Kegelapan berkumpul.

Namun kali ini—

tidak menyebar.

Melainkan—

menekan langsung ke arah mereka.

Seperti ingin menghapus mereka dari ruang itu.

Raka dan Nara saling menatap.

Tanpa kata.

Tanpa ragu.

Cahaya mereka menyatu.

Putih.

Merah.

Biru.

Dan—

menyala lebih terang dari sebelumnya.

Kehampaan itu bergetar.

Dua kekuatan bertabrakan.

Dan untuk pertama kalinya—

di tempat tanpa batas ini—

pertempuran terakhir benar-benar dimulai.

Satu Cahaya, Satu Takdir

CINCINSLOT - Kehampaan bergetar.

Bukan karena suara.

Bukan karena benturan—

melainkan karena keberadaan dua kekuatan yang tidak seharusnya berada di sana.

Cahaya dan kegelapan—

tidak lagi sekadar bertabrakan.

Mereka saling mencoba… menghapus satu sama lain.

Raka berdiri di depan.

Nara di sampingnya.

Cahaya mereka menyatu.

Namun—

tekanan dari makhluk itu semakin kuat.

“Aku akan menghapus kalian… sampai tidak ada yang tersisa,” suaranya menggema.

Kegelapan mengalir seperti ombak.

Menghantam.

Mengikis.

Perlahan—

cahaya mereka mulai goyah.

Nara terhuyung.

“Raka… tekanannya… terlalu besar…”

Raka menggertakkan giginya.

“Aku tahu…”

Ia menatap ke depan.

Namun matanya—

tidak lagi ragu.

Di dalam dirinya—

ruang putih itu muncul lagi.

Namun kali ini—

tidak retak.

Tidak goyah.

Tenang.

Sosok dirinya yang lain berdiri di sana.

“Ini saatnya.”

Raka menatapnya.

“Aku mengerti…”

Ia mengepalkan tangannya.

“Kalau kita hanya bertahan… kita akan kalah.”

Sosok itu mengangguk.

“Benar.”

Sunyi.

“Jadi…”

Raka menarik napas dalam.

“…aku akan mengakhirinya.”

Di dunia kehampaan—

Raka membuka matanya.

Cahaya di tubuhnya berubah.

Lebih dalam.

Lebih… luas.

Nara menatapnya.

“Raka…?”

Raka tersenyum kecil.

“Kali ini… kita tidak hanya melawan.”

Ia mengangkat tangannya.

“Kita akan menghapusnya… dari sumbernya.”

Makhluk itu tertawa.

“Kesombongan yang sama…”

Namun—

ia berhenti.

Karena ia merasakan sesuatu.

Berbeda.

Berbahaya.

Raka melangkah maju.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak menahan kegelapan itu.

Ia… menerimanya.

Kegelapan menyentuh tubuhnya.

Masuk.

Namun—

tidak menguasai.

Melainkan—

menyatu.

Nara membeku.

“Raka… apa yang kamu lakukan…?”

Raka tidak menjawab.

Namun suaranya terdengar—

tenang.

“Aku tidak akan menolakmu lagi…”

Cahaya dan kegelapan berputar di tubuhnya.

Cepat.

Semakin cepat.

Hingga—

tidak bisa dibedakan lagi.

Makhluk itu mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya—

ia terlihat… waspada.

“Itu… tidak mungkin…”

Raka mengangkat kepalanya.

Matanya bersinar.

Namun bukan hanya putih.

Bukan merah.

Melainkan—

sesuatu yang baru.

“Kamu bilang… kamu adalah kehendak kehancuran…”

Suaranya dalam.

Menggema di seluruh kehampaan.

“Kalau begitu…”

Ia mengangkat tangannya.

“…aku akan jadi kehendak yang menghentikanmu.”

Cahaya besar meledak.

Namun kali ini—

tidak menyebar.

Melainkan—

terfokus.

Langsung ke arah makhluk itu.

Makhluk itu mencoba melawan.

Kegelapan berkumpul.

Namun—

terdorong.

Perlahan.

Namun pasti.

“Tidak… ini tidak mungkin…!”

Raka melangkah lebih dekat.

Setiap langkah—

mendorongnya lebih jauh.

“Kamu bukan tak terkalahkan…”

Ia menatapnya tajam.

“Kamu hanya belum pernah dihentikan.”

Makhluk itu menggeram.

Seluruh kegelapan di kehampaan itu berkumpul.

Menjadi satu serangan terakhir.

Lebih besar dari sebelumnya.

Lebih menghancurkan.

“AKU ADALAH AKHIR SEGALANYA!!”

Ia menyerang.

Tanpa sisa.

Tanpa ragu.

Raka berhenti.

Menutup matanya sejenak.

Dan—

tersenyum.

“Nara…”

Nara menatapnya.

Air matanya jatuh.

“Iya…”

“Percaya padaku… sekali lagi.”

Nara menggigit bibirnya.

Namun—

ia mengangguk.

“Selalu.”

Raka membuka matanya.

Dan dalam satu gerakan—

ia melepaskan semuanya.

Cahaya.

Kegelapan.

Dirinya.

Semua—

menjadi satu.

LEDakan terjadi.

Tidak seperti sebelumnya.

Tidak menghancurkan.

Tidak merusak.

Melainkan—

menghapus.

Kegelapan itu—

mulai hilang.

Bukan dihancurkan.

Namun… lenyap dari keberadaan.

Makhluk itu menjerit.

“APA YANG KAU LAKUKAN—?!”

Raka berdiri di tengah cahaya itu.

Tenang.

“Aku tidak melawanmu…”

Ia menatapnya.

“…aku mengakhirimu.”

Makhluk itu mencoba bertahan.

Namun tubuhnya mulai menghilang.

Sedikit demi sedikit.

“Ini… tidak mungkin…”

Suaranya melemah.

“Aku… tidak bisa… hilang…”

Raka menutup matanya.

“Semua yang ada… punya akhir.”

Dan—

dalam satu kilatan—

makhluk itu hilang.

Tanpa sisa.

Tanpa jejak.

Tanpa suara.

Sunyi.

Namun kali ini—

benar-benar damai.

Cahaya perlahan mereda.

Kehampaan kembali kosong.

Namun tidak lagi dingin.

Tidak lagi berat.

Melainkan—

tenang.

Nara berdiri.

Napasnya pelan.

Matanya mencari.

“Raka…?”

Di kejauhan—

ia melihatnya.

Berdiri.

Masih ada.

Masih tersenyum.

Nara berlari.

Memeluknya.

“Kamu… masih di sini…”

Raka tertawa kecil.

“Iya…”

Ia memeluknya kembali.

“Untuk sekarang…”

Nara terdiam.

“Untuk sekarang…?”

Raka menatap ke sekeliling.

“Kehampaan ini… mulai runtuh.”

Nara membeku.

“Apa…?”

Raka tersenyum lembut.

“Kita sudah menyelesaikan tugasnya…”

Ia menatapnya.

“Sekarang… kita harus pulang.”

Cahaya mulai muncul.

Di kejauhan.

Seperti pintu.

Seperti jalan kembali.

Nara menggenggam tangan Raka.

“Kali ini… kita pergi bersama.”

Raka mengangguk.

“Ya…”

Dan perlahan—

mereka berjalan menuju cahaya itu.

Meninggalkan kehampaan.

Meninggalkan akhir—

dan menuju…

awal yang baru.

Kita yang Memilih Bertahan

CINCINSLOT - Cahaya itu… semakin dekat.

Hangat.

Tenang.

Seolah memanggil mereka pulang.

Raka dan Nara berjalan berdampingan.

Tidak terburu-buru.

Tidak ragu.

Karena untuk pertama kalinya—

mereka tidak dikejar oleh apa pun.

Tidak ada kegelapan.

Tidak ada ancaman.

Hanya… jalan pulang.

Namun—

semakin dekat mereka pada cahaya—

kehampaan di belakang mulai runtuh.

Retakan muncul.

Besar.

Cepat.

Seperti dunia itu tidak lagi bisa bertahan.

Nara menoleh.

“Raka… tempat ini—”

Raka mengangguk.

“Iya… ini akan hilang.”

Sunyi.

“Kalau kita tidak keluar sekarang…”

Ia menatapnya.

“…kita akan ikut menghilang.”

Nara menggenggam tangannya erat.

“Kalau begitu… kita pergi sekarang.”

Namun—

Raka tidak langsung melangkah.

Ia terdiam.

Menatap cahaya itu.

Seolah… berpikir.

Nara menyadarinya.

“Kamu… kenapa?”

Raka tersenyum kecil.

“Aku hanya… memastikan sesuatu.”

“Apa?”

Raka menoleh ke belakang.

Ke kehampaan yang runtuh.

Matanya serius.

“Aku ingin memastikan… dia benar-benar sudah hilang.”

Sunyi.

Nara menggigit bibirnya.

“Kamu masih memikirkannya…?”

Raka mengangguk.

“Karena kalau dia masih ada sedikit saja…”

Ia menatap tangannya.

“…semua ini bisa terulang lagi.”

Tiba-tiba—

kehampaan bergetar lebih kuat.

Bukan karena runtuh.

Namun karena—

sesuatu bergerak.

Raka langsung menegang.

“…ternyata belum selesai.”

Nara membeku.

“Apa…?”

Dari dalam retakan kehampaan—

sebuah bayangan kecil muncul.

Tidak sebesar sebelumnya.

Tidak kuat.

Namun—

masih ada.

Sisa.

Dari makhluk itu.

“Tidak… mungkin…” bisik Nara.

Bayangan itu bergetar.

Seperti luka.

Seperti sisa yang tidak sempurna.

Namun suaranya tetap terdengar.

Lemah.

“…aku… belum… berakhir…”

Raka melangkah maju.

Matanya tajam.

“Seharusnya… kamu sudah hilang.”

Bayangan itu tertawa lemah.

“…aku adalah kehendak…”

“…selama masih ada… kegelapan… aku akan… kembali…”

Sunyi.

Kata-kata itu—

benar.

Raka tahu itu.

Dan itu berarti—

pertarungan ini tidak bisa diakhiri hanya dengan kekuatan.

Nara menatap Raka.

“Apa yang harus kita lakukan…?”

Raka terdiam.

Namun kali ini—

ia tidak ragu lama.

Ia tersenyum.

Tenang.

“Kita tidak akan menghancurkannya.”

Nara mengernyit.

“Lalu?”

Raka menatap bayangan itu.

“Kita akan mengakhirinya… dengan cara yang berbeda.”

Raka melangkah mendekat.

Nara ikut di sampingnya.

Cahaya mereka muncul lagi.

Namun kali ini—

tidak menyerang.

Tidak menghancurkan.

Melainkan—

menenangkan.

Bayangan itu bergetar.

“…apa yang kau lakukan…?”

Raka menatapnya.

“Kamu bilang… kamu akan selalu ada selama ada kegelapan.”

Sunyi.

“Kalau begitu…”

Ia mengulurkan tangannya.

“…kami akan mengubahnya.”

Nara mengerti.

Matanya melebar.

“Raka… kamu serius…?”

Raka mengangguk.

“Kegelapan bukan hanya kehancuran…”

Ia menatap bayangan itu.

“…ia juga bagian dari kita.”

Cahaya mereka menyentuh bayangan itu.

Perlahan.

Tidak memaksa.

Tidak melawan.

Dan untuk pertama kalinya—

bayangan itu tidak menyerang.

Ia… diam.

“…ini… berbeda…”

Suaranya gemetar.

“…ini bukan… kehancuran…”

Cahaya semakin kuat.

Namun lembut.

Mengelilinginya.

Memeluknya.

Raka tersenyum kecil.

“Ini bukan akhir untukmu…”

Nara melanjutkan.

“…ini awal yang baru.”

Bayangan itu bergetar.

Lalu—

perlahan berubah.

Tidak lagi gelap pekat.

Namun—

menjadi cahaya redup.

Tenang.

Tidak berbahaya.

Dan—

menghilang.

Namun bukan lenyap.

Melainkan—

menyatu.

Dengan cahaya itu.

Dengan dunia.

Sunyi.

Namun kali ini—

benar-benar selesai.

Raka menghela napas panjang.

“…sekarang… benar-benar berakhir.”

Nara tersenyum.

Air matanya jatuh.

“Ya…”

Kehampaan di belakang mereka runtuh sepenuhnya.

Tidak tersisa apa pun.

Cahaya di depan mereka semakin terang.

Seperti pintu.

Seperti rumah.

Raka mengulurkan tangannya.

“Kita pulang?”

Nara menggenggamnya.

Erat.

“Ya… kita pulang.”

Dan bersama—

mereka melangkah masuk ke dalam cahaya.

Cahaya itu menelan mereka.

Namun tidak menghilangkan.

Melainkan—

mengembalikan.

Langit biru.

Angin hangat.

Suara dunia.

Raka membuka matanya.

Di tempat yang sama.

Di dunia yang sama.

Namun—

tanpa kegelapan itu.

Nara di sampingnya.

Masih menggenggam tangannya.

Masih tersenyum.

Sunyi sejenak.

Lalu—

Raka tertawa kecil.

“Kita benar-benar kembali…”

Nara mengangguk.

“Iya…”

Ia menatap langit.

“Dan kali ini… kita tetap di sini.”

Tidak ada lagi gerbang.

Tidak ada lagi panggilan.

Tidak ada lagi kehampaan.

Namun—

di dalam hati mereka—

masih ada satu hal yang tersisa.

Cahaya.

Dan pilihan—

untuk menjaganya.








**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š..


                    

๐Ÿ‘‰ Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

No comments:

Post a Comment

Cerita Romantis ( Kita yang Ditulis oleh Senja ) Eps 6

  Di Antara Cahaya dan Kegelapan CINCINSLOT    -    Pelukanku masih erat. Namun tubuhmu— semakin bergetar. “Lepaskan aku…” Suaramu berat. Bu...