Cahaya yang Tertinggal
CINCINSLOT - Sunyi.
Dunia telah kembali seperti semula.
Langit biru.
Angin lembut.
Tidak ada retakan.
Tidak ada kegelapan.
Seolah semua yang terjadi… hanyalah mimpi.
Namun bagi Nara—
itu nyata.
Sangat nyata.
Nara berdiri di tempat terakhir Raka menghilang.
Matanya kosong.
Tangannya masih gemetar.
“Raka…”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada suara.
Hanya angin yang berhembus pelan.
Hari-hari berlalu.
Namun waktu terasa berhenti.
Sekolah kembali normal.
Orang-orang tertawa.
Berjalan.
Hidup seperti biasa.
Namun Nara—
tidak pernah benar-benar kembali.
Ia duduk di bangkunya.
Menatap kursi kosong di sampingnya.
Yang dulu—
selalu terisi.
“Kamu bilang… jangan mati dulu…” bisiknya pelan.
“Tapi kamu malah… pergi duluan…”
Ia tersenyum kecil.
Namun air matanya jatuh.
Malam hari—
Nara kembali ke tempat itu.
Tempat di mana semuanya berakhir.
Langit gelap.
Namun damai.
Ia duduk di tanah.
Memeluk lututnya.
“Aku tidak tahu… harus bagaimana sekarang…”
Sunyi.
“Aku tidak sekuat kamu…”
Angin berhembus pelan.
Dan untuk sesaat—
ia merasa…
hangat.
Cahaya kecil muncul.
Sangat kecil.
Hampir tak terlihat.
Di depan Nara.
Ia membeku.
“Apa…?”
Cahaya itu bergetar pelan.
Seperti nyala lilin yang hampir padam.
Namun—
tetap bertahan.
Nara mendekat perlahan.
Tangannya gemetar.
“Ini…”
Saat ia menyentuhnya—
hangat.
Sangat familiar.
Air matanya jatuh lagi.
“Raka…?”
Cahaya itu berdenyut.
Seolah merespons.
Seolah—
mendengar.
Di dalam cahaya itu—
sebuah suara terdengar.
Sangat pelan.
Namun jelas.
“…Nara…”
Nara langsung menutup mulutnya.
Menahan tangis.
“Raka?! Itu kamu?!”
Cahaya itu berkedip.
Lemah.
Namun ada.
“Aku… di sini…”
Suara itu terputus-putus.
Seperti jauh.
Sangat jauh.
“Aku belum… hilang…”
Nara menggenggam cahaya itu.
“Aku tahu… aku tahu kamu belum pergi…”
Nafasnya tidak teratur.
“Di mana kamu…?! Aku akan datang!”
Sunyi sesaat.
Lalu—
“Jangan…”
Suara Raka terdengar lagi.
Lebih lemah.
“Tempat ini… bukan untukmu…”
Nara menggeleng keras.
“Aku tidak peduli!”
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi!”
Cahaya itu bergetar.
Lebih kuat.
Seolah merespons emosinya.
“Nara…”
Suara itu… lebih lembut.
“Terima kasih…”
Sunyi.
“Karena kamu… aku bisa bertahan…”
Nara menggigit bibirnya.
“Kalau begitu bertahan lebih lama lagi… sampai aku menemukanmu…”
Cahaya itu perlahan meredup.
“Nara…”
“Jangan pergi lagi…!”
Namun—
cahaya itu semakin kecil.
“Aku… menunggumu…”
Dan—
hilang.
Sunyi kembali.
Namun kali ini—
berbeda.
Nara menatap tangannya.
Kosong.
Namun hangatnya masih terasa.
Ia menutup matanya.
Menarik napas dalam.
Lalu—
perlahan berdiri.
“Aku mengerti sekarang…”
Matanya terbuka.
Tidak lagi kosong.
Namun penuh tekad.
“Kamu tidak hilang…”
Ia mengepalkan tangannya.
“Kamu hanya… menunggu.”
Angin berhembus.
Lebih kuat.
Seolah merespons.
Nara menatap langit.
“Kalau kamu tidak bisa keluar…”
Ia tersenyum kecil.
“…maka aku yang akan masuk.”
Langkahnya mantap.
Tidak ragu.
Tidak takut.
Karena sekarang—
ia punya tujuan baru.
Bukan hanya bertahan.
Namun—
menjemput kembali cahaya yang hilang.
Di suatu tempat—
di dalam kehampaan—
cahaya kecil itu kembali menyala.
Dan di dalamnya—
Raka membuka matanya perlahan.
“Nara…”
Ia tersenyum.
Meski sendirian.
“Cepatlah…”
Perjalanan belum berakhir.
Bahkan—
ini baru awal yang sebenarnya.
Jalan Menuju Kehampaan
CINCINSLOT - Angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya.
Namun langkah Nara… tidak goyah.
Matanya lurus ke depan.
Penuh tekad.
Tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi ketakutan.
Karena sekarang—
ia tahu satu hal.
Raka masih hidup.
Dan ia akan menemukannya.
Nara kembali ke kuil tua itu.
Tempat segel pernah dibangkitkan.
Tempat semuanya berubah.
Kini—
sunyi.
Tidak ada cahaya keemasan seperti sebelumnya.
Tidak ada energi yang terasa kuat.
Seolah tempat itu…
sudah kehilangan fungsinya.
Namun Nara tetap melangkah masuk.
“Kalau ini tempat awal semuanya…”
Ia menatap ke dalam.
“…maka ini juga tempat untuk memulai lagi.”
Di dalam kuil—
lingkaran itu masih ada.
Namun redup.
Hampir padam.
Nara berdiri di tengahnya.
Menutup matanya.
Mengingat.
Semua yang terjadi.
Semua yang Raka lakukan.
Dan—
ia mengulurkan tangannya.
“Aku tidak punya kekuatan sepertimu…”
Cahaya biru kecil muncul.
Lemah.
Namun nyata.
“Tapi aku tidak akan berhenti di sini…”
Cahaya itu bergetar.
Seolah merespons.
“Kalau kamu bisa menjadi segel…”
Air matanya jatuh.
“…maka aku akan jadi jalan untuk mencapaimu.”
Tiba-tiba—
lingkaran itu menyala.
Pelan.
Namun pasti.
Cahaya keemasan muncul kembali.
Nara terkejut.
“Apa—?!”
Simbol-simbol kuno itu menyala.
Berputar.
Dan—
ruang di sekitarnya mulai berubah.
Seperti waktu diputar mundur.
Seperti dunia dibuka kembali.
Suara langkah terdengar.
Pria tua itu muncul lagi.
Namun kali ini—
tatapannya lebih serius.
“Kau kembali.”
Nara menatapnya.
“Ajari aku.”
Tanpa ragu.
Tanpa basa-basi.
Pria itu terdiam.
Menatapnya lama.
“Jalan yang kau pilih…”
Suaranya dalam.
“…lebih berbahaya dari yang dilalui Raka.”
Nara tidak mundur.
“Aku tidak peduli.”
Sunyi.
Pria itu menghela napas pelan.
“Kalau kau masuk ke dalam kehampaan itu…”
Ia menatap Nara tajam.
“…tidak ada jaminan kau bisa kembali.”
Nara tersenyum kecil.
“Kalau aku tidak pergi…”
Ia menunduk.
“…aku juga tidak akan pernah benar-benar hidup.”
Sunyi.
Untuk beberapa detik—
tidak ada suara.
Lalu—
pria itu mengangguk pelan.
“Baik.”
Nara menatapnya.
Matanya sedikit melebar.
“Benarkah…?”
“Namun dengarkan baik-baik.”
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya keemasan muncul.
“Kau tidak bisa masuk dengan tubuh ini.”
Nara mengernyit.
“Maksudnya?”
“Kehampaan itu… bukan dunia biasa.”
Ia melangkah mendekat.
“Itu adalah ruang antara… di mana bentuk tidak lagi berarti.”
Sunyi.
“Untuk masuk ke sana…”
Ia menatap Nara dalam-dalam.
“…kau harus melepaskan semuanya.”
Nara terdiam.
“Semuanya…?”
Pria itu mengangguk.
“Tubuhmu.”
“Kesadaranmu.”
“Bahkan… dirimu sendiri.”
Jantung Nara berdegup kencang.
“Kalau begitu… aku bisa hilang…”
“Ya.”
Jawaban itu… tanpa ragu.
Sunyi panjang.
Namun—
Nara tersenyum.
“Kedengarannya… menakutkan.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Tapi aku sudah kehilangan dia sekali.”
Ia menatap lingkaran itu.
“Aku tidak akan kehilangan dia untuk kedua kalinya.”
Pria itu menatapnya.
Lama.
Lalu—
tersenyum tipis.
“Kau lebih kuat dari yang kupikir.”
Ia mengangkat tangannya.
Lingkaran itu bersinar terang.
“Kalau begitu… bersiaplah.”
Cahaya mulai mengelilingi Nara.
Hangat.
Namun perlahan—
menarik.
Seperti ingin memisahkannya dari dunia ini.
Nara menutup matanya.
Napasnya pelan.
“Raka…”
Cahaya semakin kuat.
Tubuhnya mulai memudar.
“…tunggu aku.”
Dalam sekejap—
semuanya hilang.
Kuil kembali sunyi.
Kosong.
Tanpa siapa pun.
Di dalam kehampaan—
cahaya kecil milik Raka bergetar.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasakan sesuatu.
Bukan kegelapan.
Bukan kesepian.
Melainkan—
kehadiran lain.
Raka membuka matanya.
Pelan.
Dan berbisik—
“…Nara?”
Di kejauhan—
sebuah cahaya biru kecil muncul.
Lemah.
Namun terus mendekat.
Dua cahaya.
Dua jiwa.
Di ruang tanpa batas.
Perlahan—
mendekat satu sama lain.
Namun—
di balik kehampaan itu—
sesuatu masih mengawasi.
Dan kali ini—
ia tidak tersenyum.
Ia marah.
Karena—
mereka mulai melanggar aturan dunia itu sendiri.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

No comments:
Post a Comment